Pengentasan Kemiskinan Melalui Program Grindulu Mapan

BERDAYA : Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Pacitan, Drs. Sanyoto, MM menyerahkan bantuan ternak kepada KRTP penerima manfaat kegiatan pelatihan perempuan di Perdesaan dalam usaha ekonomi produktif program Grindulu Mapan di Desa Ngumbul.

Kimpena.kabpacitan.id-Kemiskinan merupakan pekerjaan rumah (PR) cukup rumit yang harus segera ditanggulangi pemerintah di semua jenjang. Meski program serta kegiatan yang bertujuan mengentaskan kemiskinan sudah dilakukan, akan tetapi jumlah penduduk miskin masih relatif tinggi.
Untuk itu, Pemerintah kabupaten Pacitan memiliki komitmen kuat terhadap upaya penanggulangan kemiskinan, yang telah diluncurkan oleh pemerintah pusat, dan provinsi.
Salah satu bentuk dukungan yang dilaksanakan Pemkab Pacitan, yaitu adanya Program Gerakan Terpadu Menyejahterakan Masyarakat Pacitan (Grindulu Mapan). Program tersebut merupakan sinergitas program-program pengentasan kemiskinan dari pemerintah, swasta dan masyarakat. Program Grindulu Mapan merupakan program penanggulangan kemiskinan terpadu, baik data maupun pelaksanaannya. Sasaran Program Grindulu Mapan adalah rumah tangga dan individu yang terdata di dalam Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT) tahun 2015 dan pendataan rumah tangga dan individu di luar data PBDT 2015 yaitu warga kurang beruntung yang belum masuk dalam sasaran program kemiskinan dari pusat. Data tersebut diverifikasi menggunakan indikator Perbup 36/2016 tentang Indikator dan Pedoman Verifikasi Rumah Tangga Miskin di Kabupaten Pacitan.
Dengan integrasi program dari semua stake holders, maka Program Grindulu Mapan akan lebih efektif dan tepat sasaran. Dimana strategi penanggulangan kemiskinan ada 2 (dua), yakni mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin dan peningkatan pendapatan. Mengurangi beban pengeluaran dilakukan dengan bantuan di bidang pendidikan, kesehatan, pangan dan perumahan. Sedangkan peningkatan pendapatan dilakukan melalui pelatihan peningkatan keterampilan kerja, bantuan peralatan usaha, bantuan modal maupun bantuan ternak dan sarana petanian.
Dari data yang dikeluarkan Bappeda Kabupaten Pacitan, persentase penduduk miskin di Pacitan, masih cukup tinggi. Pada tahun 2010 lalu, prosentase penduduk miskin di Pacitan mencapai 19,50 persen, serta menempati urutan ke 32 dari 38 kabupaten/kota di Jatim. Meski begitu dari tahun ke tahun, angka kemiskinan di Pacitan cenderung turun. Pada tahun 2011, dari level 19 persen turun menjadi 18,13 persen, tahun 2012 turun menjadi 17,23 persen, tahun 2013 kembali turun diangka 16,66 persen, dan pada tahun 2014 lalu berada di posisi 16,18 persen. Angka tersebut masih di atas persentase penduduk miskin Jatim, yaitu 12,28 persen, serta angka kemiskinan nasional yang mencapai 10,96 persen pada tahun 2014.
Sementara Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Pacitan Tahun 2017 dibandingkan tahun 2016 turun sebesar 0,07 poin persen, yaitu dari 15,49 persen pada tahun 2016 menjadi 15,42 persen pada tahun 2017. Berbagai program pemerintah baik pusat maupun daerah dalam pengentasan kemiskinan terus dijalankan diberbagai bidang, seperti bidang kesehatan, pendidikan dan juga pemberdayaan masyarakat.
Pengentasan kemiskinan memang tidak mudah untuk dijalankan sehingga perlu sinergitas dari berbagai unsur dan juga ada tekad yang kuat dari penduduk miskin itu sendiri untuk bangkit dari kemiskinan.

Implementasi Program Grindulu Mapan di Desa Ngumbul

Seperti diketahui, saat ini Desa Ngumbul Kecamatan Tulakan menjadi desa kedua setelah Tahunan Kecamatan Tegalombo yang menjadi percontohan program inovasi Grindulu mapan 2017-2021. Dua desa inilah yang nantinya akan menjadi fokus penanganan dan hasilnya kedepan akan direplikasi ke wilayah lain.
Sejauh ini program Grindulu Mapan yang tengah berjalan di desa Ngumbul diarahkan untuk mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin dan peningkatan pendapatan melalui program pemberdayaan masyarakat miskin. Seperti penguatan permodalan usaha, bantuan ternak, pelatihan ketrampilan serta bantuan peralatan untuk usaha kecil dan pertanian.
Upaya ini juga disinergikan dengan pengelolaan Basis Data Terpadu (BDT) berupa data Rumah Tangga Sasaran (RTS) yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Desa (SID). Sehingga validasi dan akurasi data bisa lebih tepat sasaran. SID memiliki peran krusial bagi pemerintah desa sebagai filter dan basis data yang dikelola secara periodik dan terupdate 6 bulan sekali.
Dari sekitar 548  keluarga sasaran yang terdata dalam penerima program Grindulu Mapan kini sudah mulai berdaya. Hasil pelatihan produk unggulan yang digagas lewat program Grindulu mapan kini mulai menampakan hasil dan mampu mengangkat perekonomian warga. Terdapat beberapa sentra kerajinan sapu lidi dan aneka jajanan yang dikelola oleh kelompok penerima saat ini sudah mampu memberikan kontribusi bagi penguatan produk-produk unggulan desa. Begitu juga Warga miskin yang menggeluti sektor pertanian saat ini sudah mampu membuat pupuk bokasi untuk mensiasati ketersediaaan pupuk untuk peningkatan produktivitas pertanian warga. Pun dengan warga yang mendapat bantuan ternak kini sudah bisa membiakkan ternak mereka dengan memanfaatkan lumbung pakan di pekarangan mereka.
Selain sebagai basis data, pemerintah desa juga memfasilitasi pemanfaatan SID lewat laman website desa untuk menopang industri kreatif warga. Berbagai produk kerajinan, produk olahan dan hasil pertanian dipasarkan secara online lewat website desa. (admin)

Pemerintahan desa Ngumbul bersama Instruktur dari Dinas PPKB dan PPPA Kabupaten Pacitan memberikan pelatihan membuat sapu lidi di pendopo balai desa Ngumbul. Selasa (29/8/2017). Kegiatan yang dimaksudkan untuk mendukung Program Grindulu Mapan tersebut diikuti oleh mayoritas ibu-ibu rumahtangga .

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *